Pages

Woensdag, 10 Julie 2013

Pembuat Game “Assassin’s Creed” Ternyata Orang Indonesia Sob

Richard Bharata (kiri) Level Artis Ubisoft Studios

Quote:

KOMPAS.com

— Seri video game Assassin's Creed dari Ubisoft yang kini telah

mencapai judul kelima (Assassin's Creed III) dikenal sebagai permainan

yang menyajikan gameplay terbuka di tengah tempat-tempat historis yang

tervisualisasi dengan indah.

Dalam seri game ini pemain

menjelajahi lokasi-lokasi bersejarah, seperti kota Istanbul pada zaman

Ottoman, Roma dalam masa Renaissance, serta Amerika Serikat sewaktu

dilanda perang saudara. Semuanya ditampilkan dengan detail lingkungan

dan arsitektur yang akurat sesuai era masing-masing.

Untuk

mewujudkan itu semua diperlukan kerja keras yang tidak sedikit, mulai

dari riset sejarah, kunjungan ke lokasi yang sesungguhnya, hingga proses

pengembangan lingkungan dalam game. Nah, di sinilah Richard Wych

Bharata Setiawan, seorang kelahiran Indonesia, memainkan peranannya.

Lulusan

Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti ini menjabat sebagai

Level Artist di studio besar Ubisoft di Montreal, Kanada.

Sebagai

perancang lingkungan game, Richard terlibat dalam pembuatan sejumlah

game dalam seri Assassin's Creed, termasuk Brotherhood dan Revelations

yang merupakan ekspansi dari judul Assassin's Creed II. Dia juga turut

menangani proses desain dalam seri game populer lain bikinan Ubisoft,

yaitu Prince of Persia.

Quote:

Dari lokal ke mancanegara

Richard

tidak serta-merta melompat ke Kanada begitu lulus kuliah. Pria yang

akan segera menikah dalam waktu dekat ini mengawali kariernya sebagai

desainer grafis di Forhet pada 2005. Lebih kurang setahun kemudian, dia

bergabung dengan Matahari Studios—sebuah pengembang game lokal—sebagai

special effects artist.

"Kebetulan, saya lalu dapat informasi

bahwa Ubisoft akan membuka studio di Asia Tenggara," ujar pria yang

mengaku belajar mendesain obyek-obyek dalam game secara otodidak ini.

Salah satu setting lokasi di game Assassins Creed III

Jadilah

Richard mengajukan lamaran sebagai special effects artist. Tetapi,

posisi yang diinginkannya itu ternyata tidak tersedia. Richard lantas

nyemplung sebagai level artist dan modeller di Ubisoft Singapura pada

tahun 2008 silam. Dia adalah salah satu dari dua orang Indonesia yang

tergabung dalam tim awal studio Ubisoft Singapura yang berjumlah 25

orang.

"Ketika itu ada kejadian lucu di mana saya diminta mengisi

form pekerjaan. Saya diberikan laptop, tetapi keyboardnya menggunakan

bahasa Perancis. Lama sekali saya mengisinya karena harus mencari huruf

yang tepat satu per satu, ha-ha-ha," ujar Richard sambil tergelak ketika

mengenang pengalamannya tersebut. Maklum, Ubisoft adalah perusahaan

asal Perancis. Rupanya mereka lupa membawa peralatan yang cocok untuk

kawasan Asia Tenggara.

Tiga tahun bekerja di Singapura, Richard

lantas pindah ke studio utama Ubisoft di Montreal, Kanada, di mana dia

bermukim hingga kini.

Pengalaman Richard menggunakan keyboard

berbahasa Perancis berlanjut dalam bentuk yang berbeda di Montreal

karena bahasa Perancis adalah bahasa utama di kota itu. Richard pun

makin getol belajar bahasa Perancis. "Sekarang sudah tidak kaku lagi

berbahasa Perancis meskipun masih harus banyak belajar," ujarnya.

Quote:

Pekerjaan kolosal

Melihat

tampilan dunia dalam seri game Assassin's Creed yang luas dan begitu

mendetail, dapat dibayangkan bahwa pembuatnya pastilah bekerja keras

untuk merealisasikan lingkungan game dari gambaran konsep yang

ditetapkan sebelumnya.

Di studio Ubisoft, sebagian besar tanggung

jawab ini berada di pundak art director yang memberikan arahan seputar

rancangan game pada sejumlah sub-bagian, termasuk character design dan

level designer yang menjadi atasan Richard.

"Kalau diumpamakan,

level designer membuat 'mangkuk' lingkungan dunia game berikut 'level

box' yang mewakili obyek-obyek dalam dunia game. Level artist seperti

saya kemudian mewujudkan dunia itu sesuai arahan," jelas Richard

mengenai bidang pekerjaannya.

Dari situ, Richard bersama tim

level artist memikirkan kira-kira arsitektur seperti apa yang sesuai

dengan setting game, lalu bekerja membuat obyek-obyek dan lingkungan

dalam game berdasarkan referensi yang didapat berikut limitasi interaksi

dalam game yang ditetapkan oleh programmer.

Kadang proses ini

bisa membuat pusing tujuh keliling. Richard memberi contoh salah satu

level dalam game Assassin's Creed: Brotherhood yang menampilkan

reruntuhan Colosseum di Roma, Italia, lengkap dengan ruang-ruang bawah

tanahnya.

Colosseum dalam game Assassins Creed: Brotherhood

"Kami

harus membuat Colosseum sesuai dengan keadaannya pada abad ke-15, tahun

1400-an, sementara gambar-gambar referensi yang tersedia hanya dari

tahun 2000-an," ungkap Richard. Kendati demikian, nyatanya di tengah

keterbatasan itu tim pengembang Ubisoft tetap berhasil memvisualisasikan

desain Colosseum yang megah.

Ketika itu, Richard antara lain

bertanggung jawab membuat setting dungeon atau ruang tahanan bawah tanah

di Colosseum yang juga dipakai sebagai arena kejar-kejaran menggunakan

kuda di dalam game. "Proses pembuatannya lama sekali, tapi ketika

dimainkan dalam game, lima menit saja level-nya sudah lewat, ha-ha-ha,"

ucap Richard.

Dalam proses pembuatan game, Ubisoft menerapkan

sistem milestone atau target pencapaian dalam kurun waktu tertentu. Jika

sudah dekat waktu deadline, Richard kerap lembur demi merampungkan

pekerjaan.

Tantangan dalam melakukan proses desain lingkungan

game itu pun selalu mengalami eskalasi dari judul ke judul. Menurut

Richard, ini karena Ubisoft selalu meminta rancangan yang lebih detail

untuk game berikutnya. "Pengerjaan dari Assassin's Creed II ke

Brotherhood lalu setelah itu ke Revelations, misalnya, selalu harus

disertai dengan peningkatan kualitas sehingga kami harus bekerja lebih

giat lagi."

Saat semuanya sudah selesai, dunia game kemudian

digabungkan dengan bagian-bagian lainnya, seperti karakter game hasil

rancangan character artist dan fashion designer yang juga dibuat

berdasarkan referensi faktual.

Hasil karya Richard bisa dilihat

di serangkaian judul game dalam seri populer ini, mulai dari Assassin's

Creed II, Assassin's Creed: Brotherhood, Assassin's Creed: Revelations,

hingga yang terbaru Assassin's Creed III, yang tersedia untuk platform

PC dan konsol game, seperti Xbox 360 dan PlayStation 3.

Quote:

Gerilya

Richard

mengaku menikmati bekerja di studio terbesar Ubisoft di Montreal.

"Suasananya cair, kekeluargaan. Semua karyawan, misalnya, makan siang

bersama tanpa memandang posisi atau jabatan."

Meski begitu, pria

yang mengaku suka main game untuk melihat-lihat desain lingkungannya dan

mencari inspirasi ini masih menyempatkan diri pulang ke Tanah Air

dengan memanfaatkan waktu senggang antarpembuatan judul game.

"Kebetulan,

sekarang lagi in-between, jadi bisa pulang ke rumah," ujar Richard

ketika ditemui KompasTekno di sela-sela gelaran Indocomtech 2012 di

Jakarta, November lalu. Saat itu, seri game terbaru yang turut ditangani

Richard, Assassin's Creed III, memang telah rampung dan baru dirilis ke

pasaran.

Soal industri game di Indonesia, Richard mengatakan

bahwa sebenarnya terdapat banyak talenta berbakat di Tanah Air. Hanya

saja, menurut Richard, di samping belum adanya investor besar yang

berani mendanai pembuatan game seperti Assassin's Creed, ada hal lain

yang sedikit mengganjal kemajuan dunia game Nusantara dalam

mengembangkan game berskala besar.

"Banyak yang bagus, tapi

kebanyakan dari mereka bergerak seperti pejuang gerilya zaman

kemerdekaan, yaitu terpisah-pisah antardaerah. Seandainya saja bisa

disatukan, tentu bisa kuat sekali," ujar Richard.

Bagaimana

dengan para rekan seprofesi yang memutuskan untuk mengadu nasib di

negeri orang, seperti Richard sendiri? Menurut dia, hal tersebut

berkaitan dengan besarnya penghargaan atas karya mereka yang bisa

diperoleh di luar negeri.

"Namanya juga memenuhi kebutuhan hidup.

Di Indonesia banyak talenta pembuat game berkualitas internasional,

tapi penghasilannya kurang. Seandainya keadaan itu berubah, pasti semua

yang bekerja di luar negeri akan pulang kampung dengan senang hati,"

tandasnya.

via KlikUnic http://klikunic.net/pembuat-game-assassins-creed-ternyata-orang-indonesia-sob/

10 Jul, 2013


-
Source: http://feedproxy.google.com/~r/Dawntweets/~3/M-d8jTmZyRc/pembuat-game-assassins-creed-ternyata.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Download Pembuat Game “Assassin’s Creed” Ternyata Orang Indonesia Sob

0 komentar:

Plaas 'n opmerking